![]() |
| ZOYA99.COM |
Segitiga Bermuda juga dijuluki sebagai Segitiga Iblis (Devil's Triangle) karena perairan ini memiliki banyak jalur pelayaran dan diklaim telah menelan korban lebih dari 1.000 jiwa selama 100 tahun terakhir.
Segitiga Bermuda membentang seluas 4 juta kilometer persegi di bagian barat Samudra Atlantik Utara, membentuk garis segitiga antara Bermuda, wilayah teritorial Britania Raya sebagai titik di sebelah utara, Puerto Riko, teritorial Amerika Serikat sebagai titik di sebelah selatan dan Miami, negara bagian Florida, Amerika Serikat, sebagai titik di sebelah barat.
Namun, para ahli di University of Southampton, Inggris, percaya bahwa misteri itu dapat dijelaskan melalui fenomena alam yang dikenal sebagai "gelombang jahat", menurut laporan The Sun yang dikutip News.com.au, Kamis (2/8/2018).
Dalam sebuah film dokumenter berjudul The Bermuda Triangle Enigma, para ilmuwan dari kampus itu menggunakan simulator ruangan (indoor simulator) untuk menciptakan kembali gelombang tersebut.
Gelombang yang disebut "monster" itu--yang hanya berlangsung selama beberapa menit--pertama kali terdeteksi keberadaaannya oleh satelit pada 1997 di lepas pantai Afrika Selatan. Beberapa di antaranya bahkan memiliki tinggi 30 meter.
Tim peneliti membangun tiruan USS Cyclops, sebuah kapal besar yang hilang di Segitiga Bermuda pada 1918 dan menghilangkan 300 nyawa manusia.
Karena ukurannya yang tipis dan berbeda dengan aslinya, kapal tersebut dengan mudah terempas air selama simulasi.Dr Simon Boxall, seorang ilmuwan spesialis kelautan dan Bumi, mengatakan di sekitar Segitiga Bermuda bisa terlihat tiga badai besar yang datang secara bersamaan dari arah yang berbeda. Badai ini menciptakan kondisi sempurna untuk membentuk "gelombang jahat".
Dia yakin gelombang seperti itu dapat mematahkan perahu, misalnya Cyclops, menjadi dua.
"Ada badai di selatan dan utara, yang datang bersamaan. Jika ada tambahan dari Florida, itu bisa menjadi formasi gelombang mengerikan yang berpotensi mematikan," kata Dr Boxall.
"Gelombang ini sifatnya curam, tingginya lebih dari 30 meter. Semakin besar kapal, semakin banyak kerusakan yang terjadi. Jika Anda bisa membayangkan gelombang liar dengan puncak di kedua ujungnya, ini bisa mematahkan kapal menjadi dua bagian. Apabila hal itu terjadi, kapal bisa tenggelam dalam dua hingga tiga menit," pungkasnya.
Misteri-misteri yang merebak tentang Segitiga Bermuda akhirnya bisa dijelaskan dengan teori gelombang setinggi 30 meter, tetapi mitos-mitos yang beredar tentang perairan misterius ini kemungkinan akan bertahan selamanya.
Akan tetapi, bagaimana semua dongeng dan legenda tentang Segitiga Bermuda dimulai?
Keanehan pertama kali dilaporkan pada 1950 oleh Edward Jones, yang menulis untuk Miami Herald, sebelum menjadi terkenal pada 1952 ketika George Sand menulis di majalah Fate tentang insiden-insiden tertentu yang terjadi di Segitiga Bermuda.
Salah satu insiden yang menghebohkan dunia adalah hilangnya lima pesawat Flight 19 secara misterius, pesawat yang digunakan untuk latihan mengebom torpedo. Pesawat milik Angkatan Laut Amerika Serikat ini lenyap dalam sebuah sesi pelatihan pada 1945.
Sejak saat itu, banyak kasus serupa terjadi. Selain pesawat, kapal laut pun turut dikabarkan menghilang secara tiba-tiba ketika melintasi Segitiga Bermuda. Oleh sebab itu, para peneliti dan ilmuwan terus berupaya menguak misteri dengan berbagai teori yang mereka lakukan.
Salah satunya adalah teori gas metana, senyawa yang terperangkap di dasar laut yang menyebabkan hilangnya sejumlah pesawat dan kapal. Gas ini, menurut ilmuwan, bisa meletus dan menurunkan kepadatan air sehingga kapal bisa tenggelam dengan mudah seperti batu. Bahkan pesawat yang terbang di atasnya bisa terbakar dan hancur berkeping-keping.
Teori lain mengungkapkan tentang "kabut elektronik", sebutan lain untuk badai dahsyat. "Kabut elektronik" akan muncul --entah dari mana-- dan menelan pesawat atau kapal dengan merusak elemennya. Dengan demikian, kapal atau pesawat akan lenyap tanpa jejak.
Teori ketiga melibatkan awan heksagonal dan bom udara. Ahli meteorologi menemukan awan heksagonal aneh yang mampu meledakkan angin hingga ke dasar lautan dengan kecepatan tinggi dan menciptakan gelombang setinggi 14 meter, merusak kapal hingga pesawat yang terperangkap di dalamnya.
Ilmuwan Australia, Dr Karl Kruszelnicki, juga menyebut bahwa gelombang besar menjadi penyebab hilangnya Flight 19, yang ia yakini jatuh di Segitiga Bermuda karena kesalahan manusia.
Sementara itu, tahun lalu sebuah pesawat yang membawa empat orang, termasuk seorang ibu dan dua anaknya, hilang ketika burung besi ini melintasi Segitiga Bermuda.
Jennifer Blumin beserta dua putranya yang masing-masing berusia 3 dan 4 tahun, dan pacarnya yang merupakan pilot pesawat, Nathan Ulrich, baru saja merayakan Hari Ibu di Puerto Rico. Mereka terbang ke Florida dengan pesawat twin-prop MU-2B.
Malangnya, pesawat yang mereka naiki dilaporkan lenyap dari radar sekitar 59 kilometer timur dari pulau Eleuthera di Bahama. Adapun komunikasi pesawat dengan menara bandara hilang pada jarak 7,3 kilometer dan kecepatan sekitar 555 km/jam, kata para pejabat.
![]() |
| ZOYA99.COM |
Tak Terkait dengan Iblis, Ilmuwan Pecahkan Misteri Kutukan Segitiga Bermuda
![]() |
| ZOYA99.COM |
Kabul - Ratusan militan ISIS telah menyerah kepada militer Afghanistan, di tengah pertempuran sengit antara organisasi tersebut dengan kelompok Taliban di Provinsi Jawzjan utara, kata seorang pejabat.Kepala Kepolisian Provinsi, Faqeer Mohammad Jawzjani mengatakan pada 1 Agustus, setidaknya 200 militan ISIS telah menyerah di Distrik Darzab, Jawzjan Utara, sejak 31 Juli 2018. Demikian seperti dikutip dari Radio Free Europe, Kamis (2/8/2018).
Jawzjani mengatakan, wilayah pertahanan utama ISIS di Afghanistan utara telah berada di bawah kendali Taliban. Keduanya telah berperang untuk memperebutkan area itu selama 1 bulan terakhir.
"Fenomena jahat Daesh (nama Arab untuk ISIS) telah sepenuhnya dihilangkan dan orang-orang di Provinsi Jawzjan telah dibebaskan dari siksaan," kata juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid dalam sebuah pernyataan.
Mohammad Ismail, Kepala Polisi Afghanistan di Distrik Darzab, membenarkan bahwa kelompok militan IS menyerah kepada pasukan keamanan Afghanistan di tengah bentrokan yang sedang berlangsung.Pejabat lainnya mengatakan, seorang komandan senior ISIS di Afghanistan utara, yang diidentifikasi sebagai Mawlawi Habiburrahman, termasuk di antara militan yang menyerah.
Wakil kepala kepolisian Provinsi Jawzjan, Abdul Hafeez Khashi, mengatakan bahwa pertempuran antara ISIS dan Taliban --yang saling bersaing-- itu terjadi di wilayah yurisdiksinya sejak 31 Juli dan masih berlangsung.Delapan militan Taliban dan enam anggota ISIS tewas dalam pertempuran itu, kata Khashi kepada kantor berita Pajhwok.
Belum ada komentar langsung dari kelompok Taliban atau ISIS.
Bulan lalu, komandan militer AS di Afghanistan, Jenderal John Nicholson, menyatakan keprihatinan tentang kehadiran ISIS di Afghanistan.
"Kami akan sepenuhnya melawan ISIS. Kami juga mencatat bahwa Taliban memerangi ISIS, dan kami mendorong itu karena ISIS harus dihancurkan," kata Nicholson kepada wartawan pada 23 Juli 2018.
"Tidak ada tempat bagi ISIS di masa depan Afghanistan," tambahnya.
Pemerintah yang didukung Barat di Kabul telah berjuang untuk menangkis Taliban, ISIS, dan kelompok militan lainnya sejak penarikan sebagian besar pasukan NATO pada 2014.
Pada 31 Juli 2018, setidaknya 15 orang tewas di kota Jalalabad di timur ketika para pria bersenjata menyerang sebuah gedung pemerintah dan melancarkan aksi bom bunuh diri, kata para pejabat.
Seorang karyawan wanita 22 tahun dari Organisasi Internasional untuk Migrasi adalah di antara mereka yang tewas, menurut Misi Bantuan PBB di Afghanistan.
Di Distrik Bala Baluk, Provinsi Farah barat, 11 orang dilaporkan tewas ketika bus mereka terkena bom pinggir jalan. Tidak ada yang segera mengklaim bertanggung jawab atas dua serangan itu.
Serangan kelompok ISIS di Afghanistan (dikenal dengan nama Islamic State Khorasan Province atau ISKP) tampak dilakukan sebagai tanggapan atas meningkatnya operasi pasukan khusus Amerika Serikat dan tentara Afghanistan yang berkoalisi membasmi Daesh di Distrik Deh Bala dan pedesaan lainnya di Provinsi Nangarhar timur.
Peningkatan operasi militer koalisi AS-Afghanistan itu dianggap mengganggu jalur suplai dan akses perjalanan militan ISIS untuk mencapai Pakistan.
Namun, eskalasi serangan ISKP mungkin dengan sengaja disebabkan oleh tanda-tanda kemajuan dalam upaya baru untuk menghentikan perang 17 tahun antara AS-pemerintah Afghanistan melawan Taliban, The Guardian melaporkan, dikutip Kamis 2 Agustus 2018.
Selama gencatan senjata tiga hari pada Lebaran tahun ini, para pejuang Taliban menangguhkan pertempuran mereka untuk masuk ke sejumlah kota guna menghadiri pertemuan damai mendadak dengan pejabat lokal dan para tetua adat yang pro Kabul.
Hal itu sesuai dengan keinginan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani yang mendambakan perdamaian antara Taliban dengan pemerintah. Menilik hasil positif itu, Ghani dikabarkan akan mengumumkan gencatan senjata lagi, terkhusus jelang pemilu parlemen Afghanistan yang akan berlangsung pada Oktober 2018.
Sementara itu, terungkap pekan lalu bahwa pejabat senior AS baru-baru ini bertemu dengan para pemimpin Taliban di Doha, Qatar dalam upaya nyata untuk memulai proses perdamaian. Pemerintah AS sebelumnya selalu menolak permintaan para pemberontak untuk pembicaraan tatap muka, bersikeras bahwa mereka hanya berurusan dengan pemerintah Afghanistan yang terlegitimisai.
Sekarang, pertemuan tindak lanjut --yang mungkin akan melibatkan petinggi AS, Afghanistan dan Taliban-- telah direncanakan.
Para pengamat menilai, ISKP melakukan serangan di Afghanistan karena untuk menolak segala bentuk aktivitas negara Barat di Afghanistan, dan berniat mengganggu inisiatif perdamaian sebelum mereka bisa keluar sepenuhnya secara aman dari negara itu --guna membentuk basis aktivitas di negara lain.
Sekarang, AS dan pemerintah Afghanistan tampaknya bergantung pada Taliban untuk membantu mereka mengalahkan ISKP dan sekaligus mengakhiri perang.
Analis mengatakan, kekhawatiran AS terhadap ISKP turut dirasakan oleh Iran dan Rusia. China, yang selalu memikirkan kepentingan ekonomi kawasannya, juga berbagi kekhawatiran terhadap ISKP, yang mereka anggap dapat melemahkan kepemimpinan Taliban dan mengurangi kemampuannya untuk mencapai kesepakatan perdamaian yang langgeng dengan pemerintah Afghanistan.
Di sisi lain, ISKP sendiri diyakini telah diperkuat oleh pembelot Taliban, militan ISIS yang melarikan diri dari Irak dan Suriah, dan militan dari Sudan, Chechnya, Uzbekistan dan Tajikistan. Pendanaannya diduga berasal dari donor swasta, negara-negara Teluk Arab dan pajak lokal informal.
Menurut Sudha Ratan dari Augusta University, India dan Afghanistan melihat ISKP dan 3.000-5.000 pejuangnya sebagai "faksi sempalan" Tehreek-e-Taliban (TTP), atau Taliban Pakistan, yang diduga didukung oleh ISI, dinas intelijen Pakistan.
Pakistan membantah tuduhan itu, meski negara Barat meyakini betul bahwa Islamabad melanggengkan keberadaan TTP. Akan tetapi, belakangan terakhir usai pemilu, Pakistan tampak menginginkan hubungan yang lebih baik dengan Kabul.
![]() |
| ZOYA99.COM |



